Bandara Sarrin yang baru‑baru ini menjadi perhatian setelah Tentara Arab Suriah menguasainya kembali digambarkan sebagai fasilitas militer yang signifikan di pedesaan Ain al‑Arab (Kobani), Provinsi Aleppo. Landasan pacu dan infrastruktur lain di lokasi ini menunjukkan kemampuan untuk menampung pesawat tempur dan logistik berat, menjadikan wilayah tersebut punya peran strategis dalam dinamika militer utara Suriah.
Meski sebagian laporan menyebut bandara ini dibangun sekitar tahun 2016, banyak pengamat mengaitkannya dengan periode ketika berbagai kekuatan asing terlibat intens dalam konflik Suriah. Tahun 2016 sendiri adalah periode ketika koalisi internasional dan pasukan dukungan sering aktif di garis depan, termasuk di Aleppo dan sekitarnya.
Namun, apakah Sarrin adalah “bandara rahasia AS”? Berdasarkan catatan media dan laporan berbagai pihak, tidak ada bukti bahwa bandara tersebut merupakan pangkalan rahasia Amerika Serikat yang dibangun sendiri oleh Washington. Berikut adalah konteks yang lebih jelas.
Pada puncak operasi militer internasional melawan ISIS, sejumlah basis di utara dan timur laut Suriah memang dimanfaatkan oleh pasukan koalisi pimpinan AS dan sekutunya dalam operasi logistik dan dukungan udara. Namun, Sarrin tidak tercatat sebagai pangkalan tetap atau resmi Amerika Serikat sendiri, melainkan sebagai salah satu basis yang digunakan oleh pasukan koalisi sementara.
Pada akhir tahun 2019, laporan dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyebutkan bahwa pasukan koalisi mulai menarik diri dari Sarrin, termasuk kendaraan dan peralatan berat mereka. Ini menunjukkan bahwa kehadiran asing di bandara tersebut bersifat sementara dan operasional, bukan pangkalan rahasia permanen.
Beberapa sumber juga menunjukkan bahwa setelah penarikan pasukan AS, pasukan Rusia mengambil alih fasilitas ini, menempatkan pasukan polisi militer mereka di lokasi yang sebelumnya diduga digunakan oleh Amerika Serikat dan koalisi. Ini menguatkan bahwa kepemilikan dan kontrol atas bandara berubah mengikuti dinamika militer yang cepat di lapangan.
Penggunaan fasilitas seperti Sarrin oleh pasukan koalisi biasanya berkaitan dengan operasi sementara, tidak seperti pangkalan besar yang dibangun oleh satu negara dengan infrastruktur permanen, seperti Al‑Tanf di selatan Suriah yang memang diketahui merupakan pangkalan AS resmi selama bertahun‑tahun.
Selain itu, beberapa laporan awal tahun 2016 mengabarkan bahwa AS dan sekutunya sedang membangun atau memperluas beberapa basis di utara Suriah, termasuk di wilayah Rmelan serta lokasi lain di dekat Kobani. Namun ini lebih merupakan pembangunan fasilitas operasi militer bersama dengan pasukan lokal, bukan pangkalan mutlak milik AS.
Fakta bahwa Sarrin kemudian sepenuhnya ditinggalkan oleh pasukan koalisi menunjukkan bahwa fasilitas itu tidaklah dirancang sebagai pangkalan rahasia permanen. Penarikan pasukan mencerminkan perubahan prioritas strategis, termasuk konsentrasi pasukan di wilayah timur laut dan area lapangan minyak.
Dalam konteks perang Suriah secara luas, terdapat beberapa pangkalan besar yang benar‑benar dimiliki oleh kekuatan asing, seperti Al‑Tanf yang dikuasai AS di selatan atau pangkalan Rusia di Hmeimim di pantai barat. Sarrin tidak termasuk dalam kategori pangkalan permanen ini.
Kehadiran kegiatan koalisi di Sarrin memang berarti bandara itu pernah menjadi titik strategis dalam operasi anti‑ISIS, tetapi penggunaan ini bersifat sementara dan operasional, bukan indikasi bahwa lokasi ini adalah pangkalan rahasia AS yang dibangun untuk tujuan jangka panjang.
Selain itu, perubahan kontrol dari Amerika Serikat ke Rusia menunjukkan sifat konflik yang dinamis dan berubah‑ubah di Suriah. Fasilitas yang diperlukan untuk operasi tertentu dapat dipakai oleh satu kekuatan, lalu dialihkan setelah kebutuhan strategis berubah.
Pakar militer menilai bahwa pendekatan semacam ini sering dipakai dalam perang modern: penggunaan sementara dari fasilitas lokal untuk operasi tertentu, tanpa investasi besar dalam infrastruktur permanen di wilayah yang tidak stabil secara politik.
Bandara seperti Sarrin, dengan landasan pacu panjangnya dan fasilitas logistik, jelas memiliki nilai strategis. Namun nilai itu tidak otomatis berarti fasilitas tersebut “milik AS” secara eksklusif atau rahasia.
Pengambilalihan atau pergantian kontrol militer atas fasilitas ini oleh aktor yang berbeda mencerminkan kekacauan geopolitik di Suriah, di mana banyak pihak berusaha mendapatkan posisi strategis di wilayah konflik.
Sebelum perang, banyak basis militer Suriah telah rusak atau hancur; konflik kemudian menciptakan peluang bagi berbagai kekuatan untuk memanfaatkan sisa infrastruktur ini untuk operasi mereka, termasuk pasukan lokal, koalisi, dan kemudian pasukan Rusia.
Kehadiran AS di utara Suriah pada masa tertentu bukanlah hal yang misterius, tetapi merupakan bagian dari operasi koalisi yang lebih luas untuk memerangi ISIS, bukan rencana jangka panjang untuk membangun basis militer rahasia.
Sarrin sendiri kemudian kehilangan peran signifikan bagi Amerika ketika dinamika pertempuran berubah, menunjukkan bahwa keberadaannya bukan bagian dari strategi permanen Washington di Suriah.
Meski begitu, nama “bandara rahasia Amerika” tetap sering muncul dalam diskusi publik karena lokasi ini pernah dilibatkan dalam operasi militer koalisi dan karena minimnya informasi resmi dari pihak manapun yang berkepentingan di wilayah Suriah utara.
Dalam banyak konflik, fasilitas semacam ini mudah menimbulkan spekulasi karena keterlibatan aktor asing, tetapi bukti menunjukkan bahwa Sarrin lebih merupakan fasilitas militer periode perang yang dipakai sementara, kemudian beralih kontrol, daripada pangkalan rahasia permanen milik AS.
Dengan demikian, Sarrin bukanlah pangkalan rahasia pemerintah AS, tetapi bagian dari medan operasi yang selalu berubah di Suriah, mengalami perubahan kontrol sesuai kebutuhan taktis dan strategis berbagai pihak dalam konflik panjang di negara itu.
Kesimpulannya, sekalipun Sarrin pernah digunakan oleh pasukan koalisi, tidak ada bukti bahwa itu adalah pangkalan rahasia yang dibangun oleh Amerika Serikat di Suriah.



